Dunia kesehatan di Timur Tengah kini tengah menyoroti langkah besar Suriah yang mulai memulihkan posisi strategisnya dalam peta medis regional melalui pertemuan ilmiah internasional.
Kota Damaskus yang sarat akan sejarah kembali menjadi saksi bisu bagi pertemuan Dewan Spesialisasi Kesehatan Arab yang sempat terhenti selama lebih dari satu dekade. Kehadiran para pakar kesehatan dari berbagai negara Arab ini menandakan babak baru bagi Suriah dalam upaya mengejar ketertinggalan teknologi medis global di tengah tantangan pascakonflik yang berat.
Langkah diplomatik medis ini merupakan upaya nyata dari Kementerian Kesehatan Suriah untuk mengintegrasikan kembali standar kualifikasi dokter mereka dengan sistem akreditasi Arab Board yang diakui secara internasional. Di balik upaya modernisasi yang ambisius tersebut, tersimpan sebuah identitas unik yang membedakan Suriah dari negara-negara tetangganya dalam hal pendidikan tinggi kedokteran. Sejak lama, Suriah dikenal sebagai salah satu negara yang sangat gigih mempertahankan Bahasa Arab sebagai bahasa pengantar utama dalam pengajaran ilmu kedokteran modern di universitas.
Pilihan bahasa ini bukanlah tanpa alasan, melainkan sebuah bentuk kemandirian intelektual untuk memastikan bahwa sains tingkat tinggi dapat dipahami secara mendalam oleh masyarakatnya tanpa hambatan bahasa. Meskipun menggunakan Bahasa Arab, kurikulum yang diterapkan di universitas-universitas besar seperti Universitas Damaskus sepenuhnya mengacu pada sains medis konvensional yang mutakhir. Hal ini membuktikan bahwa Suriah telah lama meninggalkan metode tradisional dalam pendidikan formal dan beralih sepenuhnya ke jalur kedokteran Barat yang berbasis bukti.
Namun, jika kita menelusuri lorong-lorong kota tua Damaskus, jejak sejarah kedokteran masa keemasan Islam masih terasa sangat kental dan hidup di tengah masyarakat. Di sana, kita tidak hanya menemukan rumah sakit modern, tetapi juga warisan pengetahuan yang dahulu dibawa oleh para ilmuwan besar era kekhalifahan hingga masa Ottoman. Tradisi pengobatan yang berbasis pada keseimbangan elemen tubuh ini memiliki kemiripan yang sangat kuat dengan sistem Unani yang hingga kini masih populer dan diakui secara resmi di India.
Di India, Unani dikembangkan secara institusional melalui universitas dan kementerian khusus, namun di Suriah, sistem ini mengalami perjalanan sejarah yang sedikit berbeda. Pasca runtuhnya Kesultanan Ottoman, Suriah berada di bawah mandat Prancis yang membawa pengaruh kuat sekularisme dan modernisasi dalam bidang kesehatan. Akibatnya, sistem pengobatan tradisional tidak diaduk ke dalam kurikulum perguruan tinggi, melainkan tetap bertahan sebagai warisan budaya dan praktik kesehatan masyarakat.
Masyarakat Suriah menyebut praktik ini sebagai Kedokteran Arab atau pengobatan herbal yang pusatnya dapat ditemukan di pasar-pasar tradisional legendaris seperti Souq Al-Buzuriyah. Para ahli herbal yang dikenal sebagai Attarin di pasar tersebut masih memegang teguh resep-resep kuno yang terinspirasi dari kitab-kitab legendaris karya Ibnu Sina. Meskipun mereka tidak menyandang gelar dokter medis dari universitas, peran mereka dalam menyediakan alternatif kesehatan bagi warga lokal sangatlah signifikan dan tetap dihormati.
Fenomena ini menunjukkan adanya dualisme yang harmonis antara kedokteran modern yang canggih dengan kearifan lokal yang telah berusia ratusan tahun. Di rumah sakit pemerintah, para dokter bekerja dengan protokol medis internasional, peralatan bedah modern, dan penelitian berbasis laboratorium yang ketat. Sementara itu, di rumah-rumah warga, penggunaan tanaman obat seperti jintan hitam atau mawar Damaskus tetap menjadi pilihan utama untuk perawatan kesehatan sehari-hari secara alami.
Keunikan lain dari sistem kesehatan di Suriah saat ini adalah ketangguhan para tenaga medisnya dalam menghadapi situasi darurat yang kompleks akibat krisis berkepanjangan. Banyak dokter Suriah yang kini memiliki keahlian klinis di atas rata-rata karena pengalaman langsung menangani kasus-kasus medis di medan yang serba terbatas. Pengalaman praktis ini menjadi modal berharga bagi Suriah saat mereka kembali duduk bersama dalam pertemuan Arab Board untuk berbagi pengetahuan dengan rekan-rekan sejawat mereka.
Pertemuan ilmiah yang baru saja diadakan di Damaskus tersebut juga menekankan pentingnya adopsi teknologi kecerdasan buatan dalam sistem kesehatan masa depan. Menteri Kesehatan Suriah menegaskan bahwa modernisasi adalah jalan satu-satunya untuk meningkatkan taraf hidup warga dan memperbaiki layanan kesehatan yang sempat terdampak krisis. Upaya ini mencakup pembukaan spesialisasi baru yang lebih tajam dan peningkatan kualitas pelatihan bagi tenaga kesehatan non-dokter agar standar pelayanan merata di seluruh provinsi.
Dalam konteks sejarah, transisi dari kedokteran era Ottoman ke sistem modern di Suriah sebenarnya berlangsung melalui proses asimilasi yang panjang. Pada akhir abad ke-19, sekolah-sekolah medis militer mulai memperkenalkan anatomi dan farmakologi modern yang kemudian menjadi fondasi bagi fakultas kedokteran pertama di Suriah. Warisan Ottoman kini lebih banyak terlihat pada arsitektur bangunan rumah sakit tua yang megah, sementara fungsinya telah sepenuhnya bertransformasi mengikuti tuntutan zaman.
Meskipun sistem Unani secara formal lebih berkembang pesat di India karena perlindungan hukum dan dukungan pemerintah, akar keilmuannya tetap berhulu pada pusat-pusat ilmu di Timur Tengah seperti Damaskus. Bagi para peneliti sejarah medis, Suriah adalah laboratorium hidup di mana teori-teori medis kuno dan praktik bedah modern bisa ditemukan berdampingan dalam radius yang sangat dekat. Hal ini menciptakan suasana unik di mana kemajuan sains tidak serta merta menghapus memori kolektif bangsa tentang kejayaan masa lalu.
Ketahanan sistem kesehatan Suriah juga teruji saat mereka menghadapi sanksi ekonomi yang menyulitkan impor obat-obatan paten dari luar negeri. Dalam kondisi terjepit tersebut, pengetahuan tentang herbal dan pengobatan tradisional sering kali menjadi penyelamat bagi banyak keluarga di daerah terpencil. Hal ini memicu kesadaran baru di kalangan akademisi Suriah untuk mulai meneliti secara ilmiah khasiat tanaman obat lokal menggunakan metode penelitian modern yang objektif.
Dengan demikian, kedokteran Suriah saat ini dapat didefinisikan sebagai sistem modern yang memiliki jiwa sejarah yang sangat kuat. Mereka tidak lagi mempraktikkan pengobatan tradisional sebagai standar utama, namun tetap menghormatinya sebagai bagian dari kekayaan intelektual bangsa. Integrasi antara kearifan lokal dan tuntutan teknologi global menjadi kunci bagi Suriah untuk membangun kembali sektor kesehatannya yang sempat rapuh.
Kerja sama dengan Dewan Spesialisasi Kesehatan Arab diharapkan dapat mempermudah pertukaran dokter dan pengetahuan antara Suriah dan negara-negara tetangga. Hal ini juga akan membuka jalan bagi para dokter muda Suriah untuk mendapatkan pengakuan internasional atas kompetensi yang mereka miliki. Semangat untuk kembali menjadi pusat ilmu pengetahuan di kawasan Arab kini terasa lebih kuat dari sebelumnya, didorong oleh rasa bangga akan identitas sejarah yang mereka sandang.
Pemerintah Suriah menyadari bahwa untuk mencapai kemajuan medis yang berkelanjutan, mereka harus menyeimbangkan antara infrastruktur fisik dan pengembangan sumber daya manusia. Pelatihan-pelatihan yang intensif kini mulai digalakkan kembali, dengan fokus pada penguasaan teknologi medis terbaru dan manajemen rumah sakit yang efisien. Di saat yang sama, kurikulum pendidikan medis tetap dievaluasi agar relevan dengan kebutuhan kesehatan masyarakat di tingkat akar rumput.
Kembalinya Damaskus sebagai tuan rumah pertemuan medis internasional adalah simbol bahwa stabilitas mulai kembali dan kepercayaan dunia Arab terhadap institusi pendidikan Suriah mulai pulih. Ini merupakan pesan kuat kepada komunitas internasional bahwa Suriah siap berkontribusi kembali dalam pengembangan sains dan kedokteran di tingkat global. Perjalanan dari masa kejayaan rumah sakit Bimaristan hingga era kecerdasan buatan adalah bukti nyata evolusi panjang kedokteran di tanah ini.
Bagi masyarakat internasional, melihat bagaimana Suriah mengelola warisan sains Islam dan menerapkannya dalam konteks kedokteran modern adalah hal yang sangat menarik. Perbandingan dengan sistem Unani di India memberikan perspektif bahwa sebuah ilmu yang sama dapat berkembang menjadi dua entitas yang berbeda tergantung pada kebijakan politik dan sosial negaranya. Suriah memilih jalan modernitas tanpa meninggalkan bahasa ibu dan akar budayanya sebagai bangsa yang besar.
Ke depan, tantangan terbesar bagi kedokteran Suriah adalah memastikan bahwa inovasi medis dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Dukungan dari lembaga internasional seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menjadi elemen penting dalam memperkuat sistem kesehatan primer dan program dokter keluarga. Dengan sinergi yang tepat, visi untuk menjadikan Suriah kembali sebagai kiblat medis di Timur Tengah bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai.
Sejarah telah membuktikan bahwa Damaskus adalah kota yang selalu mampu bangkit dari reruntuhan dan menemukan kembali cahayanya melalui ilmu pengetahuan. Melalui perpaduan antara disiplin ilmu kedokteran modern yang ketat dan penghormatan terhadap tradisi penyembuhan kuno, Suriah tengah merajut masa depan kesehatan yang lebih cerah. Bangsa ini terus melangkah maju dengan keyakinan bahwa kesehatan adalah fondasi utama bagi pembangunan kembali sebuah peradaban.
Sebagai penutup, transformasi medis yang terjadi di Suriah memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya adaptasi dan ketahanan nasional. Dari pasar herbal yang harum dengan aroma rempah hingga ruang operasi yang steril dengan teknologi tinggi, Suriah menceritakan sebuah narasi tentang keberlanjutan ilmu pengetahuan manusia. Kota Damaskus kini bukan lagi sekadar sejarah, melainkan pusat inovasi yang siap menyambut masa depan kedokteran Arab dengan penuh optimisme.
Baca selanjutnya






0 Comments